1. Pengertian Konflik
Salah seorang sosiolog bernama Cooley mengatakan bahwa :
“Semakin dalam seorang memikirkan tentang konflik, maka akan semakin sadarlah
dia bahwa koflik dan kerjasama adalah dua hal yang tidak terpisahkan, bahkan
merupakan fase-fase dari suatu proses yang selalu mencakup keduanya.
Istilah konflik cenderung menimbulkan respon-respon yang bernada ketakutan atau
kebencian, padahal konflik itu sendiri merupakan suatu unsur yang penting dalam
pengembangan dan perubahan. Konflik dapat memberikan akibat yang merusak
terhadap diri seseorang, terhadap anggota-anggota kelompok lainnya, maupun
terhadap masyarakat. Sebaliknya, konflik juda dapat membangun kekuatan yang
konstruktif dalam hubungan kelompok. Konflik merupakan suatu sifat dan komponen
yang penting dari proses kelompok, yang terjadi melalui cara-cara yang
digunakan orang untuk berkomunikasi satu sama lain.
Konflik mengandung suatu pengertian tingkah laku yang lebih luas daripada yang
biasa dibayangkan orang dengan mengartikannya sebagai pertentangan yang kasar
dan perang. Dasar konflik berbeda-beda. Dalam hal ini terdapat tiga elemen dasr
yang merupakan cri-ciri dan situasi konflik, yaitu:
1. Terdapatnya dua atau lebih unit-unit atau bagian-bagian
yang terlibat di dalam konflik.
2. Unit-unit tersebut mempunyai perbedaan-perbedaan yang
tajam dalam kebutuhan-kebutuhan, tujuan-tujuan, masalah-masalah, nilai-nilai,
sikap-sikap, maupun gagasan-gagsan.
3. Terdapatnya interaksi di antara bagian-bagian yang
mempunyai perbedaan-perbedaan tersebut.
Konflik merupakan suatu tingkah laku
yang dibeda-bedakan dengan emosi-emosi tertentu yang sering dihubungkan
dengannya, misalnya kebencian atau permusuhan. Konflik dapat terjadi pada
lingkungan yang paling kecil yaitu individu, sampai kepada lingkup yang luas,
yakni masyarakat:
1. Pada taraf di dalam diri seseorang, konflik menunjuk
kepada adanya pertentangan, ketidakpastian atau emosi-emosi serta
dorongan-dorongan yang antagonistik di dalam diri seseorang.
2. Pada taraf kelompok, konflik-konflik ditimbulkan dari
konflik-konflik yang terjadi di dalam diri individu, dari perbedaan-perbedaan
pada para anggota kelompok dalam tujuan-tujuan, nilai-nilai dan norma-norma,
motivasi-motivasi mereka untuk menjadi anggota kelompok serta minat-minat
mereka.
3. Pada taraf masyarakat, konflik juga bersumber pada
perbedaan di antara nilai-nilai dan norma-norma kelompok dengan nilai-nilai dan
norma-norma kelompok-kelompok lain di dalam masyarakat tempat kelompok yang
bersngkutan berada. Perbedaan-perbedaan dalam tujuan, nilai dan norma serta
minat disebabkan oleh adanya perbedaan-pengalaman hidup dan sumber-sumber
sosio-ekonomis yang ada dalam kebudayaan-kebudayaan lain.
2. Penyebab Konflik Kelompok
Kemampuan orang yang biasa menghadapi konflik dalam melaksanakan atau menggunakan
mekanisme-mekanisme dan tingkah laku penyesuaian diri, akan semakin luas dan
semakin fleksibel dan kemampuan empatinya dapat meningkat dengan cepat.
Sebaliknya, konflik-konflik yang terjadi di dalam diri seseorang yang
berlangsung terlalu lama, terlalu gawat atau terlalu mendasar terhadap struktur
kepribadian seseorang, dapat menuntun kepada disintegrasi kepribadian yang
berat dan kehilangan kemampuan untuk melaksanakan fungsinya.
Pada taraf kelompok, konflik dapat
menuntun kepada peningkatan pemahaman dan penguatan hubungan di antara para
anggota kelompok karena perbedaan-perbedaan yang timbul dapat disalurkan dan
tidak dibiarkan terpendam di dalam hati masing-masing orang. Konflik
menimbulkan rangsangan untuk bertingkah laku dan merupakan basis interaksi.
Coser menyatakan bahwa hanyalah dengan melalui pengungkapan perbedaan-perbedaan
di antara para anggotanya yang memungkinkan kelompok menggambarkan nilai-nilai
dan minat-minat bersama. Pada saat hal-hal yang tidak disepakati diungkapkan,
maka hal yang telah disepakati pun menjadi lebih jelas. Kejelasan mengenai
kesepakatan dan ketidaksepakatan tersebut, pada saatnya secara langsung
menunjang kesatupaduan atau ikatan kelompok. Konflik sosial dapat menimbulkan
konsekuensi-konsekuensi yang meningkatkan kemampuan orang untuk melibatkan diri
di dalam kegiatan-kegiatan pemecahan masalah dengan hasil-hasil yang memuaskan.
Selain memperhatikan aspek-aspek dalam konflik yang memberikan manfaat, tidak
boleh dilupakan pula bahwa banyak konflik yang bersifat destruktif dan dapat
menuntun kepada terjadinya disintegrasi kelompok. Dengan demikian, cara-cara
yang digunakan anggota kelompok untuk mengenali, memecahkan dan menanggulangi
konflik merupakan hal yang sangat penting untuk kelangsungan kehidupan kelompok.
Konflik ada yang bersifat realistis
dan tidak realistis. Konflik yang realistis terkait dengan tujuan yang rasional
dan konflik terjadi berkenaan atau merupakan kelengkapan untuk pencapaian
tujuan. Dalam konflik yang tidak realistis, konflik tersebut merupakan tujuan
itu sendiri. Tipe konflik ini timbul dari proses-proses yang tidak rasional dan
emosional dari pihak-pihak yang telibat di dalam konflik, tidak menyadari akan
proses-proses emosional yang telah memotivasi mereka untuk memasuki
pertentangan itu. Hampir semua konflik yang berlangsung didalam kerumitan
situasi kehidupan manusia mempunyai elemen rasional maupun elemen tidak
rasional. Lebih jauh lagi, konflik-konflik tersebut mungkin fungsional maupun
disfungsional pada saat yang bersamaan.
3. Pemecahan Konflik Kelompok
Upaya untuk memecahkan konflik selalu timbul selama berlangsungnya kehidupan
suatu kelompok, namun terdapat perbedaan-perbedaan di dalam sifat dan
intensitas konflik pada berbagai tahap perkembangan kelompok. Pemecahan
terhadap konflik-konflik yang besar tidak akan dapat terjadi sampai kelompok
telah berkembang mencapai suatu titik dimana terdapat kesepakatan yang mendasar
di dalam kelompok terjadi dengan pasti. Di dalam proses-proses pembuatan
keputusan terletak metode-metode pengendalian konflik yang dapat digunakan
terhadap semua atau setiap konflik (Wilson an Raylan, 1969).
Adapun cara-cara pemecahan
konflik-konflik tersebut adalah sebagai berikut:
? Elimination, yaitu pengunduran diri salah satu pihak yang
terlibat di dalam konflik yang diungkapkan dengan:
• Kami mengalah;
• Kami mendongkol;
• Kami ke luar;
• Kami membentuk kelompok kami sendiri.
? Subjugation atau Domination, artinya orang atau pihak yang
mempunyai kekuatan terbesar dapat memaksa orang atau pihak lain untuk
mentaatinya. Tentu saja cara ini bukan suatu cara pemecahan yang memuaskan bagi
pehak-pihak yang telibat.
? Majority Rule, artinya suatu suara terbanyak yang
ditentukan dengan voting akan menentukan keputusan tanpa mempertimbangkan
argumentasi. Pada hakekatnya Majority ini merupakan slah satu bentuk
Subjugation.
? Minority Consent, artinya kelompok mayoritas yang menang
namun kelompok minoritas tidak merasa dikalahkan dan menerima keputusan serta
sepakat untuk melakukan kegiatan bersama. Bias dicontohkan disini adalah masa
pemerintahan madinah yang dipimpin oleh Rosulullah SAW.
? Compromise (kompromi) artinya kedua atau semua subkelompok
yang terlibat di dalam konflik berusaha mencari dan mendapatkan “jalan tengah
(halfway)”
? Integration (integrasi) artinya pendapat-pendapat yang
bertentangan didiskusikan, dipertimbangakn dan ditelaah kembali sampai kelompok
mencapai suatu keputusan yang memuaskan bagi semua pihak. Integrasi merupakan
cara pemecahan konflik yang paling dewasa (Albert Bandura, 1969).
Pemecahan konflik s
uatu kelompok akan tergantung pada sejumlah individu yang saling berhubungan
dan pada karakteristik-karakteristik kelompok. Di dalam hal-hal tersebut
terdapat sifat dasar konflik, yaitu :
a. Atribut-atribut tertentu dari anggota-anggota kelompok,
seperti kematangan emosi, nilai-nilai pengetahuan mengenai persoalan yang
dipertentangkan ketrampilan-ketrampilan dalam hubungan antar pribadi;
b. Pengalaman yang diperoleh kelompok sebelumnya dalam upaya
penanggulangan konflik;
Nilai-nilai dan norma-norma yang telah dikembangkan dalam kelompok tentang
cara-cara kelompok untuk menghadapi perbedaan-perbedaan di dalam kelompok serta
tentang cara-cara pemecahan masalah.