KHUTBAH
PERTAMA

الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَسْرَى
بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
الَّذِي بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ.
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ
وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
اَللَّهُمَّ صَلِّى عَلَى مُحَمَّدٍ وَ
عَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَ هُدًى
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا
رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا
وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالا كَثِيرًا وَنِسَاءً وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي
تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأرْحَامَ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Hari ini kita telah melewati pertengahan Rajab. Beberapa hari lagi kita bertemu
dengan 27 Rajab, yang oleh sebagian besar muslim di Indonesia diyakini sebagai
tanggal terjadinya Isra' Mi'raj. Meskipun tidak ada bukti shahih bahwa Isra'
Mi'raj terjadi pada 27 Rajab, bahkan Syaikh Shafiyurrahman Al-Mubarakfury dalam
sirahnya yang terkenal Rakhiqul Makhtum
menolak pendapat yang mengatakan bahwa Isra' Mi'raj terjadi pada bulan Rajab
tahun kesepuluh kenabian, tidak ada salahnya kita memanfaatkan momentum ini untuk
mengambil hikmah Isra' Mi'raj.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Isra' dan Mi'raj, keduanya terjadi pada satu malam yang sama. Sebagaimana arti
etimologi dari
أَسْرَى
(berjalan di waktu malam), Isra' adalah perjalanan malam dari Masjidil Haram ke
Masjidil Aqsha. Sedangkan Mi'raj dari Masjidil Aqsha ke Sidratul Muntaha.
Sebelum peristiwa Isra' dan Mi'raj, Rasulullah SAW ditinggalkan oleh dua orang
yang sangat berperan besar dalam dakwah beliau: Khadijah r.a. dan Abu Thalib.
Ummul Mukminin Khadijah r.a. sangat dicintai Rasulullah SAW. Khadijah adalah
wanita dan bahkan manusia pertama yang beriman kepada Rasulullah SAW, seorang
mukminah yang mengorbankan seluruh hartanya untuk dakwah Islam, dan juga
seorang istri, yang darinya Rasulullah SAW mempunyai anak (keturunan).
Sedangkan Abu Thalib adalah paman beliau. Meskipun tidak masuk Islam, Abu
Thalib berjasa besar dalam dakwah Rasulullah SAW. Abu Thalib yang selama ini
membela Rasulullah, Abu Thalib yang selama ini pasang badan ketika Quraisy akan
mencelakakannya, Abu Thalin yang selama ini membuat orang Quraisy berpikir
panjang ketika hendak menyakiti Rasulullah.
Dua orang itu meninggalkan Rasulullah SAW dalam tahun yang sama,
selama-lamanya. Karena begitu dalam duka kehilangan itu, ahli sejarah menyebut
tahun itu sebagai amul huzni; tahun duka cita.
Duka itu semakin lengkap, manakala Rasulullah SAW mencoba membuka jalur dakwah
baru, Thaif. Thaif yang sejuk dan hijau diharapkan menjadi lahan dakwah baru
yang mau membuka diri menerima Islam. Namun ternyata, Thaif tidak kalah bengis
dalam merespon dakwah. Rasulullah SAW diusir, bahkan disertai dengan cacian dan
dilempari batu hingga kaki beliau berdarah-darah.
Dalam kesedihan mendalam seperti itulah kemudian Allah SWT meng-isra'
mi'raj-kan beliau. Hingga jadilah peristiwa Isra’ dan Mi’raj itu menjadi
tasliyah (pelipur lara) yang sangat luar biasa bagi Rasulullah SAW.
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَى بِعَبْدِهِ
لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى الَّذِي
بَارَكْنَا حَوْلَهُ لِنُرِيَهُ مِنْ آَيَاتِنَا إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ
الْبَصِيرُ
Maha Suci Allah, yang telah
memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil
Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya
sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha
Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. Al Isra' : 1)
Ayat di atas adalah dalil bagi peristiwa Isra'. Sedangkan untuk mi'raj,
Al-Qur'an menyinggungnya dalam QS. An-Najm:
أَفَتُمَارُونَهُ عَلَى مَا يَرَى * وَلَقَدْ رَآَهُ نَزْلَةً أُخْرَى * عِنْدَ سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى * عِنْدَهَا جَنَّةُ الْمَأْوَى * إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى * مَا زَاغَ الْبَصَرُ وَمَا طَغَى * لَقَدْ رَأَى مِنْ آَيَاتِ رَبِّهِ
الْكُبْرَى
Maka apakah kaum (musyrik Mekah) hendak
membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? Dan sesungguhnya Muhammad telah
melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, (yaitu) di
Sidratil Muntaha. Di dekatnya ada syurga tempat tinggal, (Muhammad melihat
Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.
Penglihatannya (muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak
(pula) melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat sebahagian tanda-tanda
(kekuasaan) Tuhannya yang paling besar. (QS. An-Najm : 12-18)
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Dalam Isra' dan Mi'raj, Rasulullah SAW ditunjukkan kekuasaan Allah di bumi dan
di langit. Bahwa jika Allah berkenan, mudah saja bagi-Nya untuk mempercepat
kemenangan dakwah, sebagaimana Allah juga dengan mudah dapat mempercepat
perjalanan hamba-Nya; bahkan dengan kecepatan melebihi cahaya.
Allah juga menunjukkan kepada Rasulullah SAW bahwa meskipun untuk sementara
dakwahnya ditolak di bumi, ia sangat dimuliakan di langit. Ketika berada di
langit, Rasulullah bertemu dengan para Nabi yang semuanya memuliakan beliau.
Dalam hadits yang sangat panjang, Imam Bukhari meriwayatkan Isra' Mi'raj ini.
Diantaranya adalah sambutan para Nabi kepada beliau.
قَالَ أَنَسٌ فَذَكَرَ أَنَّهُ وَجَدَ
فِى السَّمَوَاتِ آدَمَ وَإِدْرِيسَ وَمُوسَى وَعِيسَى وَإِبْرَاهِيمَ - صَلَوَاتُ اللَّهِ عَلَيْهِمْ - وَلَمْ يُثْبِتْ كَيْفَ مَنَازِلُهُمْ ،
غَيْرَ أَنَّهُ ذَكَرَ أَنَّهُ وَجَدَ آدَمَ فِى السَّمَاءِ الدُّنْيَا ،
وَإِبْرَاهِيمَ فِى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ . قَالَ أَنَسٌ فَلَمَّا مَرَّ جِبْرِيلُ
بِالنَّبِىِّ - صلى الله عليه وسلم - بِإِدْرِيسَ قَالَ مَرْحَبًا
بِالنَّبِىِّ الصَّالِحِ وَالأَخِ الصَّالِحِ . فَقُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا
إِدْرِيسُ . ثُمَّ مَرَرْتُ
بِمُوسَى فَقَالَ مَرْحَبًا بِالنَّبِىِّ الصَّالِحِ وَالأَخِ الصَّالِحِ . قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا مُوسَى . ثُمَّ مَرَرْتُ بِعِيسَى فَقَالَ
مَرْحَبًا بِالأَخِ الصَّالِحِ وَالنَّبِىِّ الصَّالِحِ . قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا عِيسَى . ثُمَّ مَرَرْتُ بِإِبْرَاهِيمَ فَقَالَ
مَرْحَبًا بِالنَّبِىِّ الصَّالِحِ وَالاِبْنِ الصَّالِحِ . قُلْتُ مَنْ هَذَا قَالَ هَذَا
إِبْرَاهِيمُ - صلى الله عليه وسلم -
Anas berkata, "Kemudian Nabi
shallallahu 'alaihi wasallam menyebutkan bahwa pada tingkatan langit-langit itu
beliau bertemu dengan Adam, Idris, Musa, 'Isa dan Ibrahim semoga Allah memberi shalawat-Nya
kepada mereka. Beliau tidak menceritakan kepadaku keberadaan mereka di langit
tersebut, kecuali bahwa beliau bertemu Adam di langit dunia dan Ibrahim di
langit keenam. Ketika Jibril berjalan bersama Nabi shallallahu 'alaihi
wasallam, ia melewati Idris. Maka Idris pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang
shalih dan saudara yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? '
Jibril menjawab, 'Dialah Idris.' Lalu aku berjalan melewati Musa, ia pun
berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan saudara yang shalih.' Aku
bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Musa.'
Kemudian aku berjalan melewati 'Isa, dan ia pun berkata, 'Selamat datang
saudara yang shalih dan Nabi yang shalih.' Aku bertanya kepada Jibril,
'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah 'Isa.' Kemudian aku melewati Ibrahim
dan ia pun berkata, 'Selamat datang Nabi yang shalih dan anak yang shalih.' Aku
bertanya kepada Jibril, 'Siapakah dia? ' Jibril menjawab, 'Dialah Ibrahim
'alaihi wasallam.' (HR. Bukhari)
Selain bertemu dengan para Nabi, Rasulullah SAW mendapatkan perintah shalat
wajib dalam Isra' Mi'raj ini. Di sinilah salah satu keistimewaan shalat; jika
ibadah yang lain diwajibkan melalui wahyu ketika Rasulullah SAW berada di bumi,
maka untuk mewajibkan shalat Allah memanggil Rasulullah SAW ke langit. Imam
Bukhari meriwayatkan dalam lanjutan hadits di atas, bahwa semula shalat itu
diwajibkan 50 waktu, yang kemudian menjadi 5 waktu.
قَالَ النَّبِىُّ - صلى الله عليه وسلم - فَفَرَضَ اللَّهُ عَلَى أُمَّتِى خَمْسِينَ
صَلاَةً ، فَرَجَعْتُ بِذَلِكَ حَتَّى مَرَرْتُ عَلَى مُوسَى فَقَالَ مَا فَرَضَ
اللَّهُ لَكَ عَلَى أُمَّتِكَ قُلْتُ فَرَضَ خَمْسِينَ صَلاَةً . قَالَ فَارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ ،
فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ تُطِيقُ ذَلِكَ . فَرَاجَعْتُ فَوَضَعَ شَطْرَهَا ، فَرَجَعْتُ
إِلَى مُوسَى قُلْتُ وَضَعَ شَطْرَهَا . فَقَالَ رَاجِعْ رَبَّكَ ، فَإِنَّ
أُمَّتَكَ لاَ تُطِيقُ ، فَرَاجَعْتُ فَوَضَعَ شَطْرَهَا ، فَرَجَعْتُ إِلَيْهِ
فَقَالَ ارْجِعْ إِلَى رَبِّكَ ، فَإِنَّ أُمَّتَكَ لاَ تُطِيقُ ذَلِكَ ،
فَرَاجَعْتُهُ . فَقَالَ هِىَ خَمْسٌ
وَهْىَ خَمْسُونَ ، لاَ يُبَدَّلُ الْقَوْلُ لَدَىَّ . فَرَجَعْتُ إِلَى مُوسَى فَقَالَ
رَاجِعْ رَبَّكَ . فَقُلْتُ
اسْتَحْيَيْتُ مِنْ رَبِّى . ثُمَّ
انْطَلَقَ بِى حَتَّى انْتَهَى بِى إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى ، وَغَشِيَهَا
أَلْوَانٌ لاَ أَدْرِى مَا هِىَ ، ثُمَّ أُدْخِلْتُ الْجَنَّةَ ، فَإِذَا فِيهَا
حَبَايِلُ اللُّؤْلُؤِ ، وَإِذَا تُرَابُهَا الْمِسْكُ
Nabi shallallahu 'alaihi wasallam
bersabda: "Kemudian Allah 'azza wajalla mewajibkan kepada ummatku shalat
sebanyak lima puluh kali. Maka aku pergi membawa perintah itu hingga aku
berjumpa dengan Musa, lalu ia bertanya, 'Apa yang Allah perintahkan buat
umatmu? ' Aku jawab: 'Shalat lima puluh kali.' Lalu dia berkata, 'Kembalilah
kepada Rabbmu, karena umatmu tidak akan sanggup! ' Maka aku kembali dan Allah
mengurangi setengahnya. Aku kemudian kembali menemui Musa dan aku katakan bahwa
Allah telah mengurangi setengahnya. Tapi ia berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu
karena umatmu tidak akan sanggup.' Aku lalu kembali menemui Allah dan Allah
kemudian mengurangi setengahnya lagi.' Kemudian aku kembali menemui Musa, ia
lalu berkata, 'Kembalilah kepada Rabbmu, karena umatmu tetap tidak akan
sanggup.' Maka aku kembali menemui Allah Ta'ala, Allah lalu berfirman:
"Lima ini adalah sebagai pengganti dari lima puluh. Tidak ada lagi
perubahan keputusan di sisi-Ku!" Maka aku kembali menemui Musa dan ia
kembali berkata, 'Kembailah kepada Rabb-Mu! ' Aku katakan, 'Aku malu kepada
Rabb-ku.' Jibril lantas membawaku hingga sampai di Sidratul Muntaha yang
diselimuti dengan warna-warni yang aku tidak tahu benda apakah itu. Kemudian
aku dimasukkan ke dalam surga, ternyata di dalamnya banyak kubah-kubah terbuat
dari mutiara dan tanahnya dari minyak kesturi. (HR. Bukhari)
Dalam perjalanan isra' mi'raj itu Rasulullah SAW juga diperlihatkan nikmat
surga dan azab neraka; yang semakin mengokohkan beliau dalam mengemban dakwah
berikutnya.
Esuk harinya sepulang dari Isra' Mi'raj, Makkah menjadi gempar ketika
Rasulullah menceritakan Isra' Mi'raj yang dialaminya. Orang-orang kafir seperti
Abu Jahal semakin menjadi dalam mengejek beliau. Bahkan sebagian orang yang
telah masuk Islam menjadi murtad setelah mendengar peristiwa itu. Iman mereka
tidak sampai di sana. Demikian pula akalnya.
Namun tidak demikian dengan Abu Bakar. Ketika orang-orang menyampaikan berita
Isra' Mi'raj padanya, Abu Bakar hanya bertanya: "Apakah benar itu dari
Muhammad Rasulullah?" ketika dijawab benar, Abu Bakar menimpali,
"Kalau itu dikatakan Rasulullah, pastilah benar adanya!". Demikianlah
keimanan Abu Bakar yang luar biasa, selalu membenarkan Rasulullah hingga
sebagian ulama berpendapat sebab peristiwa inilah Abu Bakar digelari
Ash-Shidiq.
Demikianlah sikap manusia. Tidak semuanya beriman, tidak semuanya siap menerima
kebenaran. Dan iman yang paling utama adalah iman seperti Abu Bakar.
Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,
Dengan momentum 27 Rajab yang diyakini sebagai tanggal Isra' Mi'raj, patutlah
kita mengambil ibrah darinya. Bahwa di tengah misi keimanan, misi dakwah, Allah
menyediakan tasliyah (pelipur lara). Maka seharusnya shalat yang merupakan
oleh-oleh isra' mi'raj juga menjadi tasliyah kita dari segala beban hidup,
beban dakwah, dan beratnya melawan nafsu. Shalat harusnya menjadi penyejuk jiwa
dan rehat bagi kita.
وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين
KHUTBAH KEDUA
الْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي أَرْسَلَ
رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ
وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
أَشْهَدُ أنْ لا إلَهَ إلا اللهُ
وَحْدَهُ لا شَرِيكَ لَهُ، وأشهدُ أنَّ مُحَمَّدًا عبْدُه ورَسُولُه.
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلا تَمُوتُنَّ إِلا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا
اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا * يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ
وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ
فَوْزًا عَظِيمًا
اللَّهُمَّ صَلِّ وسَلِّمْ عَلَى
مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ وسَلّمْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ
وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ،
كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى آلِ إِبْرَاهِيْمَ، فِي
العَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ، وَارْضَ اللَّهُمَّ عَنْ خُلَفَائِهِ
الرَّاشِدِيْنَ، وَعَنْ أَزْوَاجِهِ أُمَّهَاتِ المُؤْمِنِيْنَ، وَعَنْ سَائِرِ
الصَّحَابَةِ أَجْمَعِيْنَ، وَعَنْ المُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِنَاتِ إِلَى يَوْمِ
الدِّيْنِ، وَعَنَّا مَعَهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ.
اللَّهُمَّ اجْعَلْ جَمْعَنَا هَذَا
جَمْعًا مَرْحُوْمًا، وَاجْعَلْ تَفَرُّقَنَا مِنْ بَعْدِهِ تَفَرُّقًا
مَعْصُوْمًا، وَلا تَدَعْ فِيْنَا وَلا مَعَنَا شَقِيًّا وَلا مَحْرُوْمًا.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ الْهُدَى
وَالتُّقَى وَالعَفَافَ وَالغِنَى.
اللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ أَنْ
تَرْزُقَ كُلاًّ مِنَّا لِسَانًا صَادِقًا ذَاكِرًا، وَقَلْبًا خَاشِعًا
مُنِيْبًا، وَعَمَلاً صَالِحًا زَاكِيًا، وَعِلْمًا نَافِعًا رَافِعًا، وَإِيْمَانًا
رَاسِخًا ثَابِتًا، وَيَقِيْنًا صَادِقًا خَالِصًا، وَرِزْقًا حَلاَلاًَ طَيِّبًا
وَاسِعًا، يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ
وَالْمُسْلِمِيْنَ، وَوَحِّدِ اللَّهُمَّ صُفُوْفَهُمْ، وَأَجْمِعْ كَلِمَتَهُمْ
عَلَى الحَقِّ، وَاكْسِرْ شَوْكَةَ الظَّالِمِينَ، وَاكْتُبِ السَّلاَمَ
وَالأَمْنَ لِعِبادِكَ أَجْمَعِينَ.
اللَّهُمَّ رَبَّنَا احْفَظْ
أَوْطَانَنَا وَأَعِزَّ سُلْطَانَنَا وَأَيِّدْهُ بِالْحَقِّ وَأَيِّدْ بِهِ
الْحَقَّ يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ
اللَّهُمَّ رَبَّنَا اسْقِنَا مِنْ
فَيْضِكَ الْمِدْرَارِ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الذَّاكِرِيْنَ لَكَ في اللَيْلِ
وَالنَّهَارِ، الْمُسْتَغْفِرِيْنَ لَكَ بِالْعَشِيِّ وَالأَسْحَارِ
اللَّهُمَّ أَنْزِلْ عَلَيْنَا مِنْ
بَرَكَاتِ السَّمَاء وَأَخْرِجْ لَنَا مِنْ خَيْرَاتِ الأَرْضِ، وَبَارِكْ لَنَا في
ثِمَارِنَا وَزُرُوْعِنَا وكُلِّ أَرزَاقِنَا يَا ذَا الْجَلاَلِ وَالإِكْرَامِ.
رَبَّنَا آتِنَا في الدُّنْيَا حَسَنَةً
وَفي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ
إِذْ هَدَيْتَنَا، وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً، إِنَّكَ أَنْتَ
الوَهَّابُ.
رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ
لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُوْنَنَّ مِنَ الخَاسِرِيْنَ.
اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ
وَالْمُؤْمِنَاتِ، وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، الأَحْيَاءِ مِنْهُمْ
وَالأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدُّعَاءِ.
عِبَادَ اللهِ :إِنَّ اللهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ
وَالإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي القُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ
وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ