Disampaikan pada Latihan Khusus Kohati (LKK)
Tingkat Nasional di Bangkalan,
Diciptakan alam pria dan wanita, dua makhluk dalam
asuhan dewata
Ditakdirkan bahwa pria berkuasa, sedangkan wanita
lemah lembut manja
Wanita dijajah pria sejak dulu, dijadikan
perhiasan sangkar madu
Namun ada kala pria tak berdaya, bertekuk lutut di
sudut kerling wanita
( Sabda Alam , Karya Ismail marzuki)
“Keadaan dan situasi di sekeliling sungguh
mengiris hatiku, membawa kepedihan yang dalam……Bisa saja aku mengobrak – abrik
tradisi ini jika aku tidak terikat kepada orang – orang yang memberiku
kehidupan dan kepada mereka aku berhutang segalanya “
( Surat – Surat Kartini kepada Stella)
Membicarakan
perempuan ternyata memang asyik dan menarik, baik dibicarakan sesama perempuan,
sesama laki – laki atau bahkan akan lebih seru apabila pembicaraan tentang hal
yang satu ini dilakukan oleh laki laki dan perempuan. Menariknya perempuan
untuk dibicarakan tidak hanya berada dalam era modern ini saja, kisah sejarah
menunjukkan kisah – kisah perempuan – perempuan yang luar biasa dalam mengukir
sejarahnya, kita pasti ingat kisah ratu Bilqis, Madame Divisit ( Maria Antonite
), RA. Kartini, Tjut Nyak Dien, Marlyn Monroe, Ratu Elizabet , Manohara Adelia
Pinot dll. Kisah – kisah perempuan menunjukkan bahwa perempuan merupakan sosok
yang kuat, tetapi di satu sisi mereka juga dianggap sebagai pemicu permasalahan – permasalah yang menyebabkan
runtuhnya martabat dan kekuasaan.
Sebenarnya
ketika kita mau membicarakan Gender,
ternyata bukanlah sesuatu yang baru dalam tatanan sosial kita. Seiring pendapat
George Ritzer bahwa sebuah teori akan
senantiasa berputar dalam tahapan – tahapan yang nantinya kembali pada tahapan semula. Bukankah sejarah juga berjalan
demikian pula ? Dan tatanan sosial masyarakat kita juga berjalan seperti itu ?.
Gender dalam pengertiannya berasal
dari bahasa Inggris “ GENDER” è
tidak secara jelas dibedakan dengan
pengertian sex è mengacu pada jenis kelamin laki – laki dan
perempuan. Ann Oakley,
(dalam buku Sex, Gender and
Society) “Gender berarti perbedaan
yang bukan biologis dan bukan kodrat Tuhan”. Perbedaan
biologis è perbedaan jenis kelamin yang merupakan kodrat Tuhan. Gender
merupakan Behavioral Differences (perbedaan perilaku) antara laki – laki dan
perempuan yang dikonstruksi secara sosial. Sehingga persoalan gender akan
sangat beragam, berbeda, berubah - ubah berdasarkan ruang, waktu , dan kelas –
kelas sosial dalam masyarakat. Berdasarkan ini, maka gerakan gender tidak akan
dapat berlaku universal, karena tergantung pada kontek ruang, waktu dan kelas
sosial yang ada.
Dimanakah
permasalahan gender ? Gender dalam
kontek sosiologis bukanlah menjadi persoalan . Gender Differences (perbedaan
Gender ) bukan suatu masalah sepanjang tidak menimbulkan Gender Inequalities
(ketidakadilan Gender). Ketidakadilan Gender merupakan sistem dan struktur
dimana kaum laki – laki dan perempuan menjadi korban dalam
sistem itu. Hal ini yang sering terjadi kesalahan pemahaman bahwa
gender hanya membahas tentang perempuan saja, tetapi pada intinya gender
membahas konstruksi
sosial baik yang terjadi
pada laki – laki maupun perempuan. Bentuk ketidakadilan gender dalam masyarakat
pada umumnya dalam bentuk
o Marginalisasi è
dapat bersumber dari kebijakan pemerintah, tradisi, keyakinan , tafsir agama.
o Subordinasi è
timbul akibat pandangan gender terhadap perempuan. Sikap yang menempatkan
perempuan pada posisi yang tidak penting muncul dari anggapan bahwa perempuan
makhluk yang emosional dan irrasional
o Stereotipe è
penandaan negatif terhadap klp atau jenis kelamin ttt èmengakibatkan
adanya diskriminasi dan ketidakadilan
o Violence (kekerasan) è
merupakan invansi atau penyerangan terhadap fisik atau integritasmental
psikologis seseorang yang dilakukan terhadap jenis kelamin tertentu.
o Gender dan beban kerja è
adanya anggapan perempuan memiliki sifat rajin, berakibat semua pekerjaan
domestik rumah tangga menjadi tanggung jawab kaum perempuan.
Bagaimana
persoalan gender di Indonesia ? data dan fakta persoalan – persoalan yang berkaitan dengan 5 bentuk
ketidakadilan Gender masih menunjukkan angka yang cukup tinggi dari segi
kuantitas maupun dari segi kualitasnya. Rendahnya keterwakilan perempuan dalam
lembaga – lembaga pengambilan keputusan, tingginya kekerasan terhadap perempuan
termasuk pelecehan dan perkosaan terhadap perempuan, merupakan fakta yang ada di tengah – tengah
masyarakat kita.
Persoalan
yang berkaitan dengan gender tentu tidak dapat serta merta di hadapi dengan
pola – pola yang selama ini muncul melalui adopsi utuh gerakan – gerakan gender
yang berkembang di luar. Hal ini tidak lepas dari kultur, kondisi sosial ,
perangkat perangkat pendukung yang ada hingga proses reformasi sosial terhadap
perempuan akan lebih diterima ketimbang revolusi. Selain itu persepsi keliru
yang muncul bahwa gerakan gender sebagai
upaya perlawanan terhadap laki – laki
haruslah dipupus habis, sehingga yang muncul adalah kerjasama dalam
memperbaiki ini semua.
Mengolah
ketidakadilan gender pada perempuan
harus diupayakan melalui perbaikan sisi eksternal dan dari sisi internal perempuan itu sendiri
sehingga penyelesainnya dapat berjalan secara efektif dan berharap cita – cita Kartini benar – benar terwujud.
“Aku
Sungguh ingin mengenal seorang yang kukagumi, perempuan yang modern dan
independen, yang melangkah penuh percaya diri dalam hidupnya, ceria dan kuat,
antusias dan punya komitmen, bekerja bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga
memberikan dirinya untuk masyarakat luas, bekerja untuk kebaikan sesamanya,
keinginanku berada di zaman baru seperti itu sungguh terasa panas bergelora”
Oleh : Aminah Dewi R