Pendahuluan
Salah
satu teori yang muncul dalam menjawab perubahan sosial masyarakat menuju modern
kemudian dikenal dengan teori modernisasi. Teori ini mendasarkan pada konsep
evolusionisme. Secara historis makna modernitas mengacu pada transformasi
sosial, politik, ekonomi, kultural, dan mental yang terjadi di Barat sejak abad
ke 16 dan mencapai puncaknya pada abad 19 dan 20 (Sztomka, 2008:149). Maka
kemudian teori ini lebih pada menunjukkan tahap-tahap perubahan masyarakat pada
arah tertentu yang kemudian dianggap mencerminkan manusia modern.
Teori
evolusi dan teori fungsionalisme banyak mempengaruhi pemikiran tentang
modernisasi sebagai faktor yang mewujudkan realitas perubahan. Dari sudut
pandang ini,perkembangan masyarakat terjadi melalui proses peralihan dari
masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Teori evolusi memandang perubahab
bergerak secara linear dari masyarakat primitif menuju masyarakat maju. Dan
bergerak perubahan itu mempunyai tujuan akhir. Sedangkan teori fungsionalisme,
memandang masyarakat sebagai sebuah sistem yang selalu berada dalam
keseimbangan dinamis. Perubahan yang terjadi dalam unsur sistem itu akan
diikuti oleh unsur sistem lainnya dan membentuk keseimbangan baru.
Dalam
teori modernisasi klasik masih berasumsi bahwa negara Dunia ketiga merupakan
negara terbelakang dengan masyarakat tradisoonalnya. Sementara negara-negara
Barat (Eropa dan Amerika Serikat) dilihat sebagai negara modern. Sehingga
gejala dan kondisi yang terjadi dalam masyarakat diukur menurut pandangan Barat
dalam menentukan tingkat modernitas. Sehingga tidak salah kalau Gramsci
mengetakan telah terjadi hegemoni budaya terhadap negara Dunia ketiga.
Masyarakat kemudian lebih banyak mengadaptasi nilai-nilai gaya hidup Barat
sebagai identitas modern sehingga kecenderungan dilihat sebagai
westernisasi.
Menurut
Chuanqi dalam artikel The Civilization and Modernization yang
dipresentasikan di World Congress of International Institute of Sociology
Social Change in the Age of Globalization mengatakan bahwa teori
modern klasik pada periode 1950-1960-an dipelopori oleh munculnya buku-buku
seperti The Passing of Traditional Society: Modernizing the Middle East (Lerner
1958), Politics of Modernization (Apter 1965), Modernization: Protest and
Change (Eisenstadt 1966), Modernization: The Dynamics of Growth (Weiner
1966), Modernization and the Structure of Society (Levy 1966), The Dynamics of
Modernization (Black 1966), The Stages of Economic Growth (Rostow 1960),
Political Order in Changing Society ( Huntington 1968), dan lain-lain.
Paling tidak pengertian umum tentang modernisasi adalah proses sejarah pada
pada transformasi perubahan besar-besaran dari pertanian tradisional ke
masyarakat industri modern sejak masa revolusi industri abad XVIII. Proses
modernisasi berlangsung revolusioner, komplek, sistematik, global, jangka
panjang dan progresiv. Sehingga akan menghasilkan kristalisasi dan difusi
modernitas klasik.
Penganut
modernisasi klasik memandang perkembangan masyarakat akan menuju pada suatu
tata kehidupan masyarakat modern. Smelser, melihat fungsi kelembagaan modern
lebih kompleks dari pada kelembagaan tradisional. Dalam perkembangan ekonomi
menurut Rostow, masyarakat modern berada dalam tahap komsumsi tinggi dengan
pertumbuhan ekonomi yang tinggi, sedangkan masyarakat tradisional mengalami
hanya sedikit perubahan baik dibidang ekonomi maupun social budaya.
Teori
Modernisasi Rostow ini merupakan teori pertumbuhan tahapan linier (linier
stage of growth models). Dimana pembangunan dikaitkan dengan
perubahan dari masyarakat agraris dengan budaya tradisional ke masyarakat
rasional, industrial, dan berfokus pada ekonomi pelayanan. pertumbuhan
ekonomi disebabkan oleh peningkatan secara kuantitas dan kualitas dari faktor
produksi dalam sebuah negara yang meliputi tanah, tenaga kerja, modal, dan
pengusaha.
Menurutnya
terdapat 5 tahapan masyarakat menuju masyarakat modern. Tahap pertama yakni
masyarakat tradisional yang mendasarkan pada pertanian, belum banyak menguasai
ilmu pengetahuan, adanya kepercayaan terhadap kekuatan yang menguasai manusia,
masyarakat cenderung statis dan produksi digunakan untuk konsumsi bukan
investasi. Tahap kedua, Prakondisi u/ Lepas Landas dimana campur tangan
dari luar telah merubah masyarakat tradisional sehingga muncul ide pembaharuan,
ada usaha-usaha untuk meningkatkan tabungan masyarakat.
Tahap
ketiga, Lepas Landas dimana mulai hilangnya hambatan proses pertumbuhan
ekonomi, tabungan dan investasi meningkat, pertanian menjadi usaha komersial
untuk mencari keuntungan bukan untuk konsumsi, industri baru berkembang pesat,
dimana keuntungan ditanamkan kembali pad apabrik baru. Tahap keempat,
Bergerak ke Kedewasaan yang mana teknologi mulai diadopsi secara meluas, negara
memantapkan posisinya dalam perekonomian global dimana barang yangtadinya
import kemudian diproduksi sendiri, serta peningkatan tabungan dan investasi.
Sedangkan tahap terakhir kelima, Konsumsi Massal yg Tinggi, pada tahap
ini konsumsi tidak lagi terbatas pada kebutuhan pokok untuk hidup tetapi
meningkat ke kebutuhan yang lebih tinggi, perubahan orientasi produksi dari
kebutuhan dasar menjadi kebutuhan barang konsumsi tahan lama, surplus ekonomi
tidak lagi digunakan untuk investasi tetapi digunakan untuk kesejahteraan
sosial, dan pembangunan sudah berkesinambungan.
Beberapa
ahli meneruskan kajian modernisasi klasik dengan mengamati perkembangan di
tingkat masyarakat. David Mc.Clelland dalam bukunya The Achieving Society (1961),
menggunakan pendekatan psikologi. Bagi dia, kemajuan di bidang ekonomi
dipengaruhi tingkat kebutuhan berprestasi. Masyarakat modern di barat memiliki
tingkat kebutuhan berprestasi yang tinggi. Teori ini sering disebut sebagai
teori N-ach (need for achievement). Bahwa keingian atau kebutuhan berprestasi
bukan sekedar untuk mendapatkan imbalan tetapi juga kepuasan. Pada tingkat
makro pertumbuhan ekonomi yang tinggi didahului oleh n-ach yang tinggi.
Pendapat
Inkeles menyatakan manusia modern tidak memperlihatkan gejala ketegangan atau
penyakit psikologis akibat modernisasi, bahkan menunjukkan pola yang stabil.
Menurut Alex Inkeles dalam bukunya becoming modern menyatakan
bahwa manusia modern paling tidak memiliki ciri-ciri: sikap membuka diri pada
hal-hal yang baru; tidak terikat terhadap ikatan-ikatan institusi maupun
penguasa tradisional; percaya pada ilmu pengetahuan; menghargai ketepatan
waktu; dan melakukan segala sesuatu secara terencana.
Selanjutnya
ahli sosiologi Max Weber juga ikut memperkaya kajian modernisasi melalui
studinya tentang pengaruh ajaran agama terhadap kemajuan ekonomi. Bagi Weber
nilai agama (etika) Protestan di barat telah menumbuhkan dorongan pada manusia
untuk bekerja keras sebagai suatu tugas suci untuk mencapai kesejahteraan
hidup. Dalam Buku: The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism
(1996) Webe Weber menjjelaskan bahwa adanya kemajuan ekonomi yang pesat pada
beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat dibawah sistem kapitalisme. Semangat
kapitalisme dikarakterisasikan sebagai gagasan bahwa adanya akuisisi terhadap
kemakmuran sebagai akhir pencapaian. Man is dominated by the making of
money, by the acquisition of wealthas the ultimate purpose of his life.
(halaman 53). Semangat kapitalisme kemudian diterjemahkan sebagai
perlakuan etos kerja pada suatu masa dan melampaui sejarah manusia yang disbeut
tradisionalisme. A man does not ‘by nature’ wish to earn more and more
money, but simply to live as he is accustomed to live and to earn as much as is
necessary for that purpose (halaman 60). Makanya dari situ diperlukan suatu
usaha untuk lebih mendapatkan uang. Sebagai hasil analisisnya adalah adanya
etika Protestan. Dimana menjadi anggapan umum bahwa keberhasilan kerja di duni
akan menentukan seseorang masuk surga atau neraka. Berdasarkan kepercayaan
tersebut kemudian mereka bekerja keras utuk menghilangkan kecemasan. Sikap
inilah yang diberi nama etika protestan. Konsep ini kemudian menjadi konsep
umum yang tidak dihubungkanlagi dengan agama. Kajian Weber kemudian
dikembangkan oleh Bellah pada masyarakat Jepang. Etika Samurai yang tercermin dalam
nilai-nilai agama Tokugawa resisten dalam perkembangan ekonomi industri modern
di Jepang.
Perubahan
social dalam pandangan modernisasi klasik, menitikberatkan kemajuan masyarakat
modern terbentuk melalui suatu proses yang sama. Pandangan ini ditinjau kembali
oleh para penganut modernisasi aliran baru. Wong, misalnya menyatakan, kemajuan
ekonomi di Hongkong digerakkan oleh perusahaan-perusahaan yang memiliki sistem
organisasi tradisional yang bersifat nepotis, paternalistic dan kekeluargaan.
Kasus Indonesia yang diamati Dove, memperlihatkan bahwa budaya local mengalami
perubahan yang dinamis dalam dirinya. Sedangkan, Davis menilai ekonomi
kapitalisme di Jepang tumbuh oleh terbentuknya rasionalisasi agama dan moral
dalam lingkar barikade budaya. Dari sudut pandang politik, Huntington
menyatakan budaya atau agama mempunyai korelasi yang tinggi dengan demokrasi.
Aliran
baru teori modernisasi tersebut mengandung pemikiran bahwa nilai tradisional
dapat berubah oleh karena dalam dirinya mengalami proses perubahan yang
digerakkan oleh perkembangan berbagai factor kondisi setempat misalnya, factor
pertumbuhan penduduk, teknik, apresiasi nilai budaya.
Tinjauan Kasus
Studi
kasus pertama yang ingin dijadikan sebagai bahan analisis adalah tulisan Henk
Maier Pusaran Air dan Listrik: Modernitas di Hindia Belanda yang
terangkum dalam kumpulan tulisan Outward Appearances:Trend, Identitas, dan
Kepentingan dengan editor Henk Schulte Nordholt. Gelombang modernitas
di Hindia menurut Takashi Shiraishi (1990) pada awalnya adalah dengan datangnya
mesin-mesin uap. Akibat masuknya mesin uap ini denyut modernisasi menemukan
bentuk di Hindia Belanda. Menurut Maier, gelombang kedua modernisasi di Hindia
Belanda adalah dengan masuknya jaringan listrik terutama pada periode 1930-an.
Dalam situasi muram akibat depresi ekonomi justru jenis-jenis suara baru berupa
radio dan cahaya (listrik) secara berangsur-angsur masuk dalam rumah tangga
bangsa Hindia Belanda. Hal ini terlihat dari iklan-iklan yang muncul dalam
berbagai media pada saat itu.
Meskipun
sebenarnya penelitian Maier lebih pada interpretasi terhadap iklan bolam lampu
Phillip dalam jurnal Pandji Poestaka yang diterbitkan di Batavia tanggal
3 februari 1940 namun perspektif yang digunakan adalah bagaimana perubahan
perspsi masyarakat tentang adanya nilai-nilai modernitas dalam masyarakat yang
baru. Iklan itu sendiri merupakan sebuah gambar yang didalamnya terdapat
seorang pria, seorang perempuan, seorang anak perempuan yang mungkin merupakan
sebuah keluarga duduk mengelilingi meja di ruang keluarga pada malam sore hari
sambil membaca dan menyulam yang terbungkus oleh sebuah bolam lampu merek
Phillips. Gambar juga disertai dengan kata-kata Melayu yang berbunyi menjimpan
banjak oewang serta tulisan terang sebagai siang.
Maier
dalam tulisannya ingin menunjukkan bahwa sebuah perubahan yang terjadi dalam
masyarakat meuju modernitas identik dengan adanya kenyataan bahwa terkait
dengan persoalan ekonomi dan hegemoni budaya. Menurutnya, gambaran yang
sengajaingin ditampilkan dalam iklan tersbeut adalah gamabaran ideal dari
keluarga yang modern. Paling tidak analisis yang dilakukan terdapat 3 hal. Pertama,
keluarga ideal yang modern adalah keluarga initi yang hanya terdiri dari
pasangan suami istri dan sedikit anak. Ini berbeda dengan pandangan masyarakat
pribumi dimana keluarga masih menganut keluarga besar, dari orang tua ayah atau
ibu, saudara ayah atau ibu, sampai pada anak dan cucu. Yang merupakan keluarga
besar. Iklan tersbeut ingin menunjukkan bahwa keluarga hanya berupa keluarga
inti dan anakpun tidak banyak. Kedua, prinsip-prinsip ekonomi yang
dianut dengan sistem perhitungan yang ketat yakni dengan penggunaan lampu
modern maka bisa mengirit pengeluaran. Selain itu adanya kegagalan untuk
mempromosikan penggunaan lampu minyak tergantikan dengan model baru. Ketiga,
perubahan struktur terhadap waktu. Adanya kecenderungan masyarakat untuk lebih
menekankan aktivitas harian pada siang hari yang menuntut pada penernagan
cahaya kemudian berubah dalam memanfaatkan waktu menjadi lebih panjang. Ketika
malam hari digunakan lampu listrik untuk berbagai aktivitas seperti membaca
atau meluangkan waktu untuk bercengkerama dengan keluarga inti.
Gambaran
yang cobaingin diangkat adalah adanya penampilan sebuah dunia mimpi tentang
keselarasan dan keteraturan yang bernafaskan pada kedamaian, keramahtamahan,
dan kenyamanan. Cahaya listrik merupakan sumber pencerahan dan
kesenangan. Pada sisi lain gambar tersebut menjadi multitafsir apakah
kesenangandan kehidupan keluarga inti merupakan hasil dari ekonomi ataukah
sebaliknya gambar tersebut ingi mengatakan bahwa kesenangan dan kehidupan
keluarga inti harusmengarah pada ekononomi, minat uang, dan bahasa Melayu? Yang
jelas gambar iklan tersebut merupakan lambang modernitas Hindia Belanda.
Studi
kasus yang kedua adalah kumpulan tulisan Rudolf Mrazek dalam bukunya Engineers
of Happy Land: Perkembangan Teknologi di Sebuah Koloni (2006). Tulisan
Mrazek ini ingin menunjukan adanya penanda modernisasi dalam masyarakat Hindia
Belanda. Kata-kata teknologi yang digunakan lebih mengacu pada sekumpulan
budaya, identitas dan bangsa. Orang-orang di Hindia Belanda, baik orang
Indonesia maupun orang Belanda yang ada di Indonesia merasa canggung dengan
teknologi-teknologi baru. Ketika menjumpai teknologi-teknologi yang tidak
seperti biasanya, orang-orang Hindia Belanda seringkali bergerak, berbicara,
dan mneulis dengan cara memasuki perilaku dan bahasa mereka.
Penanda-penanda
yang digunakan oleh Mrazek dalam menangkap modernisasi di Hindia Belanda adalah
dengan adanya penggunaan (pemaksaan masuknya) teknologi baru. Pada bagian
pertama diawali dengan dibukanya jalur-jalurjalan yang menghubungkan daerah
penghasil ekonomi dengan transit-transit barang. Jaringan jalan terutama darat
menjadi penanda penting dimulainya penguasaan wilayah. Kemudian bagian
berikutnya dibahas tentang gedung-gedung dengan fungsinya masing-masing. Secara
radikal, ini merupakan hal yang baru dalam bentuk arsitektur di Hindia Belanda.
Pada bagian ini ingin menunjukkan adanya teknologi baru dalam hal arsitektur,
perencanaan kota, tempat tinggal maupun tempat usaha.
Bagian
ketiga memuat tentang bagaimana teknologi optik menjadi sebuah budaya baru
dalam merekam peristiwa. Foto-foto kemudian menjadi barang yang mulai digemari
untuk menjadi bahan kenangan. Kemudian bagian berikutnya membahas tentang
masuknya teknologi pleasure untuk kenyamanan sehari-hari berupa
penggunaan alat-alat elektronik yakni rado, telepon, dan alat-alat komunikasi
lainnya. Sedangkan pada bagian akhir ditutup dengan epilog dari serangkaian
masuknya teknoloogi-teknologi baru tersbuet bagi masyarakat. Sebuah tindakan
budaya yang kemudian akan mencerminkan tindakan-tindakan manusia modern.Pada
akhirnya keberadaan teknologi baru ini akan mebuat semangat baru bagi
masyarakat Indonesia. Gagasan dan gerakan nasionalisme muncul kepermukaan dalam
bentuknya sendiri.
Kajian
analisis ketiga adalah tulisan Henk Schulte Nordholt Lokalisasi
Modernitas di bali pada Zaman Kolonial (Tahun 1930-an) pada buku kumpulan
tulisan Nordhlot Kriminalitas, Modernitas, dan Identitas dalam Sejarah
Indonesia (2002). Menurut Nordholt, untuk mencari modernitas di Bali pada
sekelompok orang terpelajar lokal pada tahun 1920-an dan 1930-an harus dilihat
dalam konteks kebijaksanaan pemerintahkolonial tertentu. Penaklukan Bali
selatan tahun 1895 dan 1908 pihak Belanda ingin memperkenalkan pemerintahan
birokratis yang modern dan rasional yang dalam mata mereka berbeda dengan sifat
pemerintahan raja lama yang salah dan arbitrer. Ini berakibat munculnya
sekelompok baru orang Bali yang mendapat pendidikan barat dan muali mengisi
jabatan-jabatan rendah dalam birokrasi.
Akantetapi
pada tahun 1920-an iklim politik Hindia Belanda berubah pesat. Dengan semangat
untuk menghambat perluasan nasionalisme dan geger karena pemberontakan komunis
yang abortif di Jawa Barat dan Sumatera Barat, pihak Belanda mulai melaksanakan
kebijakan “emntradisionalisasi” masyarakat pribumi. Pihak Belanda kembali
mengukuhkan kembali keturunan keluarga bangsawan lama. Di Bali selain
membekukan sistem kasta lambat laun mengembalikan dinasti raja-raja lama. Pada
akhirnya modernitas birokrasi yang diberlakukan oleh Pemerintah Hindia Belanda
di Bali mendapat ganjalan akibat persoalan sentral yakni sistem kasta.
Kajian
analisis berikutnya adalah tulisan Howard Dick Industrialisasi Abad ke-19:
Sebuah Kesempatan yang Hilang yang terangkum dalam buku Thomas J Linblad, Sejarah
Ekonomi Modern Indonesia: Berbagai Tantangan Baru (2000) yang secara khusus
meneliti tentang sejarah industri di Surabaya pada abad XIX. Menurut Dick
industrialisasi yang terjadi ditandai dengan penggunaan ketel uap (steam
boiller) sebagai tenaga penggerak pada pabrik gula. Dalam buku yang lain
dikatakan bahwa perkembangan industri di Surabaya berdasarkan periodisasi
perkembangan industri. Masing-masing periode dipaparkan dalam struktur-struktur
yang mempengaruhi serta terkait dengan perkembangan industri. Fokus yang
dibahas dalam buku ini mengarah pada pengertian “industri barat”.
Dalam
melihat modernisasi seiring industrialisasi yang terjadi di Kota Surabaya, Dick
ternyata menemukan bahwa ternyata kemunculanindustri-industri besar yang ada
pada periode berikutnya tidak dapat meraih kesempatan untuk mendapat
keuntungan. Justru mengalami pelemahan. Meskipun telah mencapai titik modern, bahkan
bisa dikatakan lebih maju dari pusat-pusat kota pelabuhan di Asia seperti
Bombay, Canton, dan lain-lain. Berbagai macam industri baik dalam skala besar
dengan menggunakan mesin-mesin berat sampai skala kecil yakni industri
kerajinan telah ada di Surabaya. Jadi dapat dikatakan bahwa ukuran modernisasi
yangterjadi dalam kota Surabaya adalah adanya penggunaan tenaga uap bagi setor
industri. Ini berimplikasi pada ranah sosialdimana kelas-kelas pekerja mulai
terbentuk serta pola pemukiman yang cenderung mendekati lokasi kerja.
Adanya
modernisasi yang terjadi di kota Surabaya ditandai dengan adanya penggunaan
tenaga uap. Kemudian dari sini diikuti dengan industri-industri lainnya yang
dituntut untuk memenuhi kebutuhan masyarakat baik lokal maupun luar.terciptanya
masyarakat industrialis sebagai dampak adanya industrialisasi yang sedang
berlangsung. Pada buku Howard Dick yang lebih lengkap Surabaya City of Work:
A Socioeconomic History, 1900-2000 (2002) dijelaskan bahwa dalam kota
industri terdapat struktur masyarakat modern dimana salah satu ciri utama yang
paling kelihatan adalah dengan adanya kemunculan masyarakat pekerja (buruh).
Selain itu irama kerja yang cendrung lebih tetap serta efisiensi waktu
menyebabkan munculnya pemukiman-pemukiman yang mendekati tempat kerja. Maka
tidakheran kalau Dick menyebut Surabaya sebagai kota kerja.
Analisis
Berdasarka
pemaparan teori-teori modernisasi klasik paling tidak meliputi proses perubahan
transformasi masyarakat dari agraris tradisonal menuju masyarakat industrial modern.
Aspek ekonomi menjadi titik pusat dari kemunculan modernisasi. Sehingga akan
mempengaruhi kondisi sosial, budaya masyarakat. Tarnsformasi perubahan ini pad
amasing-masing daerah memiliki intensitas dalam waktu, keruangan serta dampak
yang berbeda-beda.
Meskipun
pada perkembangannya teori ini mendapat kritikan yang nantinya melahirkan teori
postmodernisme namun plaing tidak dalam kajian sejarah ekonomi dan sosial masih
memiliki fungsi bagi pengungkapan jawaban atas pertanyaan perubahan masyarakat
terutama di Dunia Ketiga. Kritik-kritik yang dilancarkan menganggap bahwa teori
ini secara empiris tidka menciptakan hasil yang dijanjikan. Di negara-negara
terbelakang kemiskinan terus berlangsung dan bahkan meningkat. Pada sisi lain
modernisasi justru menyebabkan kehancuran lembagadan cara hidup tradisional
yang sering menimbulkan disorganisasi, kekacauan, dan anomi. Perilaku
menyimpang dan kenakalan meningkat. Ketidakselarasan di sektor ekonomi dan
tidak sinkronnya perubahan di berbagai subsistem menyebabkan pemborosan dan
ketidakefisienan (Sztompka, 2008: 157). Namun pad atingkat mikro teori ini
dapat menjelaskan gejala yang terjadi dalam masyarakat yang muali berubah
akibat masuknya budaya, mental, dan nilai modernisasi.
Modernisme
pada perkembangan selanjutnya identik dengan perubahan budaya. Dalam hal ini
kemudian sering disebut westernisasi. Pada masyarakat Barat modernisasi
memang didefinisikan sebagai apa yang telah dikemukakan oleh beberapa tokoh di
atas. Namun ketika sampai pada negara-negara Dunia Ketiga yang masih
terbelakang dna miskin yang kesemuanya merupakan bekas jajahan mendefinisikan
modernisasi sebagai westernisasi. Masuknya teknik baru dari Barat dalam
berbagai bentuk dianggap sebagai budaya modern. Maka tidak salah kemudian
pendekatan hegemoni Gramsci menjadi sangat cocok untuk menggambarkan bahwa
terjadi hegemoni budaya pada negara-negara Dunia Ketiga. Budaya Barat sangat
dominan terhadap negara-negara berkembang. Sehingga negara berkembang terpaksa
mengadopsi budaya Barat. Maka sebagian besar negara-negara bekas jajahan akan
mengalami modernisasi yang semu.
Inovasi
dna teknik baru lebih banyak muncul akibat masuknya budaya baru sebagai bentuk
“keterpaksaan”. Studi-studi kasus yang dipaparkan di atas memperlihatkan hal
tersbeut. Bahwa modernisasi yang terjadi teutama di Indonesia lebih banyak
disebabkan karena faktor pemaksaan terhadapo pemakaian teknik baru di Indonesia
dalam proses sejarahnya. Proses modernisasi ini meliputi seluruh lapisan
masyarakat tanpa terkecuali. Bahkan Denys Lombard dalam bukunya Nusa Jawa
Silang Budaya; Batas-Batas Pembaratan (2005) setidaknya terdapat 4 (empat)
kelompok masyarakat yang menjadi agen modernisasi Barat yakni, kelompok kerabat
kerajaan yang dekat dengan Pemerintah Hindia Belanda, misionaris Kristen, golongan
pribumi terpelajar, dan kelompok kemiliteran.
Persinggungan
masyarakat pibumi dengan teknik baru ini menyebabkan perubahan secara
menyeluruh baik struktural, psikologis, politis, sosial, dan ekonomi.
Teknik-teknik yang dibawa orang-orang Barat dianggap memiliki nilai yang tinggi
dalam tingkatan sosial. Maka tidak heran pihak keraton sebagai struktur sosial
paling tinggi pada masyarakat pribumi mulai menampilkan simbol-silmbol
modernitas baru hasil adaptasi dari Barat. Hal ini sangat nampak pada simbol-simbol
pakaian yang dikenakan maupun upacara-upacara yang diselenggarakan seperti
melakukan toast gelas, minum bir dan roti dan lain-lain.
Simpulan
Jadi
transformasi perubahan sosial masyarakat dari tradisional ke modern ternyata
tidak serta merta melalui tahap-tahap seperti yang digambarkan oleh Rostow.
Pada masyarakat yang mengalami kolonialisasi, modernisasi terjadi akibat
loncatan tahap dari yang tradisional langsung menjadi masyarakat modern secara
radikal dan cepat. Masyarakat tidak melakukan inovasi mandiri terhadap proses
perubahan tersebut. Sehingga perkembangan selanjutnya lebih pada proses westernisasi.
Untuk
melihat perubahan yang terjadi pada masyarakat bekas jajahan lebih cocok
menggunakan teori modernisasi klasik. Hal ini dapat melihat bagaimana perubahan
yang terjadi dengan masuknya teknik baru. Persingungan masyarakat pribumi
dengan budaya Barat kemudian dilihat sebagai proses modernisasi. Tanpa
dilakukan penimbangan dna penilaian apakah budaya tersbeut sesuai atau tidak
dengan nilai-nilai lokal. Karena justru akibat masuknya budaya tersbuet
seringkali menyebabkan kegoncangan budaya, sosial, ekonomi, maupun politik pada
masyarakat lokal.