Sampah Plastik, Botol air mineral, dan besi – besi tua kecil Adalah isi dalam karung
seorang nenek dan anak kecil yang saya jumpai di terminal
Bungurasih Surabaya.Hari ini adalah hari minggu, inilah waktunya saya untuk kembali
Ke Kampus untuk meneruskan pencarian ilmu yang sejenak berhenti karena libur mingguan yaitu
Hari Jum’at sampai Sabtu.
Hari yang selalu saya sempatkan untuk pulang ke kampung kelahiran, kampung halaman yang terpencil dan sepit.
Waktu menunjukan Pukul 4 sore,
Matahari telah memancarkan sinar cahaya kemerahan yang menyilaukan mata, saya berdiri seorang diri di
Halte menunggu kedatangan
bus jurusan semarang kelas ekonomi. Lelah menunggu, mata setengah mengantuk, lalu saya sandarkan kepala ke tiang
Halte yang bertuliskan “
Kawasan Bebas Rokok” yang ada tepat di samping kepala
saya, tak terasa sudah 5 menit mata terpejam, tak ada satupun bus yang lewat, dan saya pun tetap sabar menunggu.
Wah, itu ada bus (
berbicara dalam hati) karena dari kejauhan terlihat bus yang datang, tiba – tiba “
Wesh”, Bus pun melaju dengan cepat, tanpa berhenti di Halte yang saya tempati, '' Ternyata bus tidak menaikkan atau meurunkan penumpang di Halte ini''.
Sekali lagi saya harus menuggu dan sesekali saya mengusap kening yang bercucuran keringat, seraya bergumam “
Aduh, lama sekali bus ndak datang datang”. sekali saya bertanya kepada tugang ojek yang mangkal di samping Halte, “ Pak, bus semarangya masih lama?”, “ Iza ,
Tunggu wae” (
memakai bahasa jawa). Setelah bapak tukang ojek berhenti berbicara, dari arah cahaya matahari yang silau terlihat bus jurusan semarang yang datang, “
Surabaya...Surabaya”, kernet bus berteriak dengan keras, langsung saya masuk kedalam bus dengan mendahulukan kaki kanan. “
Itu mas pojok kosong pojok” kernet bus memberi tahu saya, saya langsung duduk di pojok, di kursi busa yang sudah bolong. “
turun mana dek?” ibu tua di samping saya bertanya kepada saya. “
Surabaya bu” jawabku.
Beberapa menit duduk, dan berbincang dengan ibu – ibu itu, mata terasa berat, ngantuk sekali, tak berselang lama saya pun tertidur dengan lelap, tak terasa bus sudah tiba di
terminal bugurasih, “ bungur .....bungur....terakhir bungur....” kenek bus beteriak lagi dengan keras,
saya sontak terbangun dari tidur, langsung aku turun dari bus.
Turun dari bus, tenggorokanku terasa kering, sayapun langsung menuju ke sebuah kios ,membeli air minum untuk membasahi tenggorokanku.
Setelah itu saya terus berjalan menjauhi terminal menuju ke jalan raya, untuk naik angkot, di tengah perjalanan ke jalan raya, seorang nenek dan anak kecil membawa karung menghampiriku, “
Nak, boleh minta minum?” sang nenek meminta kepada saya, saya pun terkaget, “ Eia nek, ini nek” saya memberikan sebotol minuman yang saya beli di kios tadi.
“Terima kasih nak”,
Nenek dan anak kecil itu pun pergi, dan saya meneruskan perjalanan ke jalan raya, setelah sampai saya langsung masuk kedalam angkot berwarna kuning, yang berhenti di pinggir jalan.“
Pabrik kulit pak??” saya bertanya kepada supir angkot. “
Eia mas” Supir angkot menyahuti pertayaanku sembari berteriak”
Joyoboyo...joyoboyo...”kepada orang – orang yang lewat.
Lima Menit berlalu tak ada satupun orang yang naik,
si sopir pun memutuskan untuk segera memberangkatkan angkotnya untuk kejar setoran, setelah berjalan sepuluh meter,
seorang nenek dan anak kecil naik ke dalam angkot.
Aku terkaget dan berbicara dalam hati”
Ini kan nenek yang tadi”, ternyata nenek dan anak kecil yang naik itu adalah yang bertemu dan meminta air kepadaku tadi.
Tidak berani menyapa, mataku tidak berkedip memandang keduanya, sang nenek menurunkan karung yang di gendongnya, yang berisikan sampah – sampah plastik, botol air mineral dan besi – besi kecil dan mengeluarkan uang receh dari sakunya.
Setelah beberapa saat, sang nenek memencet tombol merah yang ada di atas angkot, kiri – kiri pak, sang nenek berteriak kepada supir, segera supir menghentikan angkotnya dan
nenek dan anak kecil pun turun dan nenek memberikan kepingan – kepingan uang recehnya kepada supir angkot, dan angkotpun melanjutkan perjalanan dan saya turun di pabrik kulit, sepanjang perjalanan saya terus memikirkan nenek dan anak kecil yang membawa karung tadi.,,,
by: cak faiz